Pembinaaan Toleransi Antar Umat Beragama Perspektif Pendidikan Agama Islam Bagi Remaja Kota Kendari

Rian saputra,Nurul Ismi Hairin,Fatima,Saldila Putri,Dindiya Agiska Putri,kalsum,Nur Agustina,Wa Musu,fitra ramadani

Pembahasan

1. Islam Mengajarkan Toleransi, Bukan Kekerasan

Dalam Islam sendiri, toleransi bukanlah nilai asing. Justru sebaliknya, Islam secara tegas mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dengan damai bersama pemeluk agama lain. Nabi Muhammad SAW selama hidupnya menunjukkan banyak contoh nyata tentang bagaimana memperlakukan orang yang berbeda keyakinan dengan adil dan penuh hormat.

Misalnya, dalam kehidupan Kehidupan di Kota Kendari saat ini mencerminkan keragaman yang luar biasa. Kota ini dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama. Dalam konteks ini, menjaga keharmonisan dan mencegah konflik antar kelompok menjadi hal yang sangat penting. Salah satu kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh negatif intoleransi adalah para remaja. Oleh karena itu, pembinaan sikap toleransi sejak dini sangat dibutuhkanNabi di Madinah, beliau membuat Piagam Madinah yang isinya mengatur hidup bersama antara kaum Muslimin, Yahudi, dan masyarakat lainnya. Bahkan ketika Nabi diperlakukan buruk oleh orang-orang non-Muslim, beliau tetap membalasnya dengan kebaikan. Ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip toleransi sudah menjadi bagian penting dari ajaran Islam sejak awal.

2. Remaja dan Tantangan Keberagaman

Remaja adalah kelompok usia yang sedang mencari jati diri. Mereka masih membentuk cara pandang terhadap dunia, termasuk dalam hal keberagaman. Sayangnya, di era digital seperti sekarang ini, banyak remaja yang justru lebih mudah terpapar informasi yang menyesatkan—terutama dari media sosial. Isu-isu agama yang dibahas secara sempit dan fanatik bisa mempengaruhi cara pandang mereka jika tidak dibarengi dengan pembinaan yang tepat.

Di Kota Kendari sendiri, meskipun belum terlihat gejala intoleransi yang ekstrem, benih-benih ketidaktahuan atau sikap eksklusif sudah mulai muncul, terutama ketika remaja tidak dibekali pemahaman agama yang utuh dan terbuka.

3. Pendidikan Agama Islam sebagai Sarana Strategis

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran sangat penting dalam membina sikap toleran remaja. Melalui pendidikan agama, remaja bisa belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dihargai. PAI yang efektif bukan hanya mengajarkan hafalan ayat dan hukum fikih, tetapi juga harus bisa menanamkan nilai-nilai sosial Islam yang damai dan menghargai sesama manusia.

Guru agama harus mampu mengajak siswa berdiskusi tentang realita sosial, memberikan pemahaman bahwa hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain adalah bagian dari misi Islam yang damai. Pembelajaran juga sebaiknya tidak hanya bersifat kognitif, tetapi menyentuh aspek afektif dan perilaku.

Misalnya, guru dapat mengajak siswa membahas kasus-kasus nyata yang berkaitan dengan konflik antaragama, lalu bersama-sama mencari solusi Islami yang bijak. Atau bahkan mengadakan kegiatan lintas agama seperti kerja bakti bersama, dialog remaja lintas iman, dan lain-lain.

4. Peran Lingkungan Sekitar

Sekolah bukan satu-satunya tempat pembinaan. Keluarga, lingkungan tempat tinggal, media, dan tempat ibadah juga sangat berperan. Orang tua harus menjadi teladan dalam bertoleransi, bukan malah memperkuat stereotip dan kebencian terhadap kelompok lain. Begitu juga dengan tokoh agama, mereka harus menyampaikan ajaran dengan semangat persaudaraan dan kasih sayang.

Sayangnya, masih ada sebagian kecil guru atau tokoh agama yang kurang menekankan pentingnya nilai-nilai moderat dalam ceramah atau pelajaran. Ini tentu menjadi tantangan yang harus segera diatasi melalui pelatihan, peningkatan kapasitas guru, dan pengawasan dari instansi terkait.

5. Strategi dan Upaya yang Bisa Dilakukan

Agar pembinaan toleransi melalui PAI berjalan efektif, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

• Revitalisasi kurikulum PAI agar lebih banyak memuat nilai-nilai sosial, seperti toleransi, cinta damai, dan keadilan.

• Pelatihan guru untuk lebih memahami metode pembelajaran kontekstual dan dialogis.

• Kolaborasi antar lembaga, misalnya antara sekolah, tokoh agama, dan organisasi kepemudaan dalam membangun kegiatan bersama lintas agama.

• Menghadirkan role model, baik dari kalangan guru maupun tokoh masyarakat yang menunjukkan sikap moderat dan terbuka.

Dari pembahasan ini, terlihat bahwa Pendidikan Agama Islam bisa menjadi ujung tombak dalam membina toleransi antar umat beragama di kalangan remaja, khususnya di Kota Kendari. Namun, hal itu hanya bisa terjadi jika PAI diajarkan secara inklusif, terbuka, dan tidak hanya sebatas rutinitas pelajaran formal. Diperlukan keseriusan dari semua pihak: guru, orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat luas untuk bersama-sama membentuk generasi remaja yang mampu hidup harmonis dalam keberagaman.

Landasan teori

1. Pengertian Toleransi Antar Umat Beragama

Secara etimologis, istilah toleransi berasal dari bahasa Latin tolerare, yang berarti “menahan diri” atau “bersabar terhadap perbedaan”. Dalam konteks sosial keagamaan, toleransi berarti sikap saling menghargai dan menghormati keyakinan serta praktik keagamaan yang berbeda tanpa mencampuri urusan internal agama lain.

Menurut Abdurrahman Wahid (2001), toleransi adalah sikap dasar yang harus dimiliki oleh masyarakat majemuk agar tetap bisa hidup berdampingan dalam damai. Dalam hubungan antar umat beragama, toleransi bukan berarti menyamakan ajaran, melainkan menghargai hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya masing-masing tanpa gangguan atau diskriminasi.

Toleransi sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya. Ketika nilai-nilai toleransi tidak ditanamkan sejak dini, maka generasi muda bisa mudah terjerumus ke dalam sikap eksklusif, fanatik sempit, bahkan intoleran.

2. Perspektif Islam tentang Toleransi Beragama

Dalam ajaran Islam, toleransi terhadap pemeluk agama lain adalah nilai yang dijunjung tinggi. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memaksakan keyakinan kepada orang lain, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”

(QS. Al-Baqarah: 256)

Selain itu, dalam QS. Al-Kafirun ayat 6 disebutkan:

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih keyakinannya, dan dalam waktu yang sama mengajarkan kepada umat Islam untuk menghormati keyakinan tersebut tanpa harus menyetujui isinya.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh nyata tentang hidup berdampingan dengan penganut agama lain. Piagam Madinah adalah bukti konkret bagaimana Nabi menjalin hubungan sosial-politik dengan komunitas Yahudi, Nasrani, dan kelompok lain dalam satu wilayah, dengan prinsip keadilan, perlindungan, dan tanggung jawab bersama.

Menurut Yusuf Qardhawi (2003), toleransi dalam Islam bukan hanya terbatas pada penghargaan terhadap keyakinan orang lain, tetapi juga mencakup penghormatan terhadap tempat ibadah mereka, kehidupan sosial, serta hak-hak sebagai warga negara. Inilah konsep rahmatan lil ‘alamin yang menjadi semangat universal dalam Islam.

3. Pendidikan Agama Islam dan Perannya dalam Membina Toleransi

Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah salah satu sarana formal dalam sistem pendidikan Indonesia yang bertujuan membentuk peserta didik agar menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu menjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia, termasuk yang berbeda agama. Dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, disebutkan bahwa salah satu kompetensi guru PAI adalah menanamkan nilai-nilai toleransi dan hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan karakter (tazkiyatun nafs). Maka dari itu, pendidikan Islam harus mampu menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah, seperti sikap tawadhu’, menghargai perbedaan, sabar, dan menjunjung keadilan sosial.

Hasan Langgulung (1986) menyatakan bahwa pendidikan Islam idealnya mencetak manusia yang tidak hanya shaleh secara individu, tetapi juga shaleh secara sosial. Artinya, output pendidikan Islam diharapkan mampu berinteraksi secara harmonis dengan sesama manusia, apapun latar belakang agama dan budayanya.

Di era modern ini, PAI di sekolah-sekolah harus dikembangkan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman, termasuk dalam isu-isu keberagaman. Guru PAI harus mampu menjelaskan bahwa sikap toleran terhadap pemeluk agama lain adalah bagian dari ajaran Islam yang luhur, bukan kompromi terhadap akidah.

4. Remaja dan Kebutuhan Pembinaan Toleransi

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosi, dan cara berpikir. Menurut Jean Piaget, pada masa remaja seseorang mulai memasuki tahap formal operational, di mana ia mulai berpikir logis, kritis, dan mulai membentuk pandangan terhadap dunia di sekitarnya.

Namun, pada saat yang sama, remaja juga sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk media sosial, kelompok teman sebaya, dan opini publik. Jika tidak dibimbing dengan benar, mereka bisa mudah terjerumus ke dalam sikap fanatisme, eksklusivisme, atau bahkan radikalisme.

Di Kota Kendari, yang merupakan kota dengan keberagaman agama dan budaya, pembinaan toleransi menjadi sangat penting agar remaja dapat tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, kritis, dan mampu menghargai perbedaan. Pendidikan Agama Islam yang disampaikan dengan pendekatan humanis dan kontekstual akan sangat membantu dalam membentuk sikap tersebut.

Dampak

Pembinaan toleransi antar umat beragama melalui perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI) memberikan berbagai dampak positif, khususnya bagi kalangan remaja di Kota Kendari yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Dampak tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial yang lebih luas.

1. Terbentuknya Karakter Remaja yang Moderat dan Inklusif

Melalui penguatan nilai-nilai Islam yang damai dan menghargai perbedaan, pembinaan ini dapat membentuk karakter remaja yang lebih terbuka dan moderat dalam berpikir. Mereka tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), serta mampu memposisikan diri secara adil dalam pergaulan sosial, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Remaja yang dibina dengan pendekatan Islam yang toleran akan memiliki pola pikir inklusif. Mereka tidak memandang orang berbeda agama sebagai musuh atau ancaman, melainkan sebagai sesama manusia yang memiliki hak hidup, hak ibadah, dan hak dihargai sebagaimana mestinya.

2. Mencegah Penyebaran Paham Intoleran dan Radikalisme

Remaja yang tidak mendapatkan pendidikan agama yang moderat rentan terpapar paham-paham intoleran, baik dari lingkungan sekitar maupun dari media sosial. Pembinaan yang dilakukan melalui PAI dengan pendekatan dialogis, kontekstual, dan aktual dapat menjadi benteng awal yang kuat untuk melindungi remaja dari pengaruh ideologi ekstrem.

Dampaknya, remaja tidak hanya menjadi pribadi yang tahan terhadap provokasi, tetapi juga bisa menjadi agen perdamaian dan penyejuk dalam lingkungan pertemanannya.

3. Terciptanya Kehidupan Sosial yang Rukun dan Harmonis

Pembinaan toleransi melalui pendidikan agama yang benar dapat menciptakan suasana kebersamaan di tengah masyarakat majemuk. Di Kota Kendari, hal ini sangat penting mengingat adanya keberagaman etnis dan agama yang tinggi.

Ketika remaja terbiasa hidup dalam semangat saling menghargai, maka kehidupan sosial pun akan menjadi lebih damai. Perbedaan agama tidak lagi menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi kekayaan yang bisa dirayakan bersama. Mereka akan lebih mudah bekerja sama dalam kegiatan sosial lintas agama seperti kerja bakti, komunitas pemuda lintas iman, atau forum-forum kebangsaan.

4. Meningkatnya Kesadaran Kritis terhadap Isu Keberagaman

Dampak lainnya adalah meningkatnya kesadaran remaja terhadap isu-isu keberagaman. Mereka tidak hanya menjadi penonton dalam perbedaan, tetapi juga memiliki pemahaman dan kepekaan yang tinggi terhadap peran mereka dalam menjaga kerukunan. Pendidikan Agama Islam yang baik akan menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial terhadap sesama, termasuk kepada yang berbeda agama.

Kesadaran ini membuat mereka lebih bijak dalam bersikap di media sosial, lebih cermat dalam menyaring informasi, dan lebih peka terhadap upaya adu domba antar kelompok keagamaan.

5. Membangun Pondasi Bangsa yang Kuat

Remaja adalah generasi penerus bangsa. Jika sejak usia muda mereka telah dibina dengan semangat toleransi melalui ajaran agama yang damai, maka bangsa Indonesia ke depan akan dipenuhi oleh individu-individu yang cinta perdamaian, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta mampu membangun peradaban yang lebih adil dan beradab.

Di tingkat lokal seperti Kota Kendari, pembinaan ini menjadi modal penting dalam mewujudkan masyarakat madani yang mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola keberagaman.

Kesimpulan

Pembinaan toleransi antar umat beragama merupakan kebutuhan mendesak di tengah kehidupan masyarakat multikultural seperti di Kota Kendari. Remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu mendapatkan pendidikan yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan. Dalam hal ini, Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peranan penting sebagai sarana strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman yang damai, adil, dan toleran.

Ajaran Islam sejatinya telah mengajarkan prinsip-prinsip toleransi secara jelas, baik melalui ayat-ayat Al-Qur’an maupun melalui teladan Nabi Muhammad SAW. Pendidikan agama yang diajarkan secara inklusif, kontekstual, dan dialogis dapat membantu remaja memahami bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari sunnatullah yang harus diterima dan dikelola dengan bijak.

Melalui pendekatan yang tepat dalam pembelajaran PAI—baik dari segi kurikulum, metode, maupun peran guru—remaja di Kota Kendari dapat dibina untuk menjadi pribadi yang moderat, terbuka, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga turut menjaga stabilitas sosial dan membangun budaya damai dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pembinaan toleransi melalui perspektif Pendidikan Agama Islam bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi merupakan upaya strategis untuk membentuk karakter remaja yang tangguh secara spiritual dan sosial di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Daftar pustaka

Abdullah, M. A. (2010). Islam dan Pluralisme Agama: Menyemai Perdamaian di Tengah Perbedaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ali, M. (2005). Pendidikan Agama Islam yang Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Azra, A. (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Kompas.

Depdiknas. (2007). Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hafidz, J. (2013). Pendidikan Islam dan Multikulturalisme: Menumbuhkan Toleransi Beragama dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 10(2), 143–156.

Langgulung, H. (1986). Pendidikan Islam dan Peranannya dalam Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Qardhawi, Y. (2003). Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Jakarta: Gema Insani.

Rohman, A. (2010). Toleransi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Implikasinya dalam Pendidikan. Jurnal Studi Islam, 5(1), 67–84.

Sutrisno, E. (2008). Budaya Organisasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Wahid, A. (2001). Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute.

Zamroni. (2005). Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural. Jurnal Ilmu Pendidikan, 12(3), 185–192.

Lampiran


Komentar

  1. Jurnalnya sangat memuaskan dan bagus banget

    BalasHapus
  2. Jurnal ini sngat bermanfaat bagi semua orang

    BalasHapus
  3. Masyaallah Islam memang selalu menarik untuk kita bahas lebih dalam, sama degan arti dari ISLAM yaitu "selamat" semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah dan di sertai hal yang baik"

    BalasHapus
  4. jurnal yang bagus dan bermanfaat bagi semua orang agar bisa toleransi dengan agama ataupun budaya" lain

    BalasHapus
  5. Jurnal ini sangat relevan karena membahas pentingnya pembinaan toleransi antar umat beragama untuk menciptakan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat.

    BalasHapus
  6. Jurnal ini sangat bagus da menginspirasi kita semua

    BalasHapus
  7. jurnal ini sangat keren dibaca

    BalasHapus
  8. Jurnal ini sangat bagus untuk di baca dan menginspirasi kita semua

    BalasHapus
  9. jurnalnya sangat bagus dan menginspirasi

    BalasHapus

Posting Komentar